Alasan saya posting kali ini adalah karena saya sedang bosan menghafal. Yes, sudah dari 2 jam yang lalu saya bolak-balik ke web itu-itu saja untuk menyisip sepotong demi sepotong informasi ke kepala saya, karena saya butuh tahu banyak tentang yang saya cari tahu dan kapasitas otak saya yang terlalu sering dipakai tidur harus pelan-pelan menelan semua itu. Ini ada hubungannya dengan judul di atas.. ya standarlah saya sedang berburu kerja dan butuh persiapan untuk wawancara. Kata berburu lebih cocok di sini karena tidak susah mencari pekerjaan, yang susah adalah mendapatkannya lebih dulu dari banyak pemburu lain.
Harap diingat bahwa saya tidak ada maksud untuk berkarir sebagai pemburu kerja profesional. Cukuplah 1-2 kali kemudian berhenti untuk memberikan kesempatan bagi orang lain. Kasihan.
Nah, karena berstatus sebagai pemburu, maka naluri pemburu pun akan muncul dengan sendirinya. Bila di hutan Anda berburu dengan senapan dan di laut Anda berburu dengan pancing, maka di dunia kerja Anda harus dengan seni. Bila Anda kesulitan membedakan yang mana pancing yang mana senapan, maka Anda harus banyak merenung.
Lebih banyak tentang seni berburu kerja ini akan bisa Anda dapatkan setelah saya mengetes keabsahan ilmu ini terlebih dahulu. Jadi doakan saya berhasil lulus dalam wawancara user 2 hari lagi karena itu akan berpengaruh luas terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di negeri ini.
Terima kasih.
Showing posts with label random idea. Show all posts
Showing posts with label random idea. Show all posts
World, My Son Starts School Today!
Ini adalah salah satu tulisan favorit saya. Penulisnya adalah seorang ayah dari anak laki-laki yang--pada saat tulisan ini dibuat--baru memulai hari pertama di sekolah dasar. Sang ayah menulis harapan-harapannya pada secarik kertas kepada alam semesta supaya mengajarkan kearifan hidup pada sang anak yang kemudian dititipkan pada saya untuk di-posting di blog ini. Well, sort of. :9 Enjoy!
Yap, it's Abby's. He's simply a loving father. Well, he ruled a country too sometimes, abolished enslavement, and grew his beard and sideburn once in a while.. My point is, this kind of hopes are the ones I (and every father in the world) would think of when our child steps his/her foot out to school later someday. And when that time comes, I would proudly say out loud "Hey World, my son starts school today!"
Or at least until I get some flying tomatoes in response.
WORLD, MY SON STARTS SCHOOL TODAY!
World, take my child by the hand--he starts school today! It is all going to be strange and new to him for a while, and I wish you would sort of treat him gently. You see, up to now, he has been the king of the roost. He has been the boss of the backyard. I have always been handy to soothe his feelings.
But now things are going to be different. This morning he is going to walk down the front steps, wave his hands, and start on a great adventure that probably will include wars and tragedy and sorrow.
To live in this world will require faith and love and courage. So, world, I wish you would sort of take him by his young hand and teach him the things he will have to know. Teach him--but gently, if you can.
He will have to learn, I know, that all people are not just--that all men and women are not true. Teach him that for every scoundrel, there is a hero; that for every enemy, there is a friend. Let him learn early that the bullies are the easiest people to lick.
Teach him the wonder of books. Give him quiet time to ponder the eternal mystery of birds in the sky, bees in the sun, and flowers on a green hill. Teach him that it is far more honorable to fail than to cheat. Teach him to have faith in his own ideas, even if everyone tells him they are wrong.
Try to give my son the strength not to follow the crowd when everyone else is getting on the bandwagon. Teach him to listen to others, but to filter all he hears on a screen of truth and to take only the good that comes through.
Teach him never to put a price tag on his heart and soul. Teach him to close his ears on the howling mob--and to stand and fight if he thinks he is right. Teach him gently, world, but do not coddle him, because only the test of fire makes fine steel.
This is a big order, world, but see what you can do. He is such a nice son.
Regards,
Abraham Lincoln
Yap, it's Abby's. He's simply a loving father. Well, he ruled a country too sometimes, abolished enslavement, and grew his beard and sideburn once in a while.. My point is, this kind of hopes are the ones I (and every father in the world) would think of when our child steps his/her foot out to school later someday. And when that time comes, I would proudly say out loud "Hey World, my son starts school today!"
Or at least until I get some flying tomatoes in response.
Dalam Hujan Tentang Angin
Selasa sore itu mendung. Betah rasanya di kosan dengan cuaca begitu. Saya berulangkali mengecek langit Bandung di sebelah barat saya. Di suatu tempat di barat sana, saya yakin sudah turun hujan. Saya mengenali abu-abu pekat itu. Itu bukan gumpalan awan, itu spasi berisi massa air yang sedang jatuh dari langit. Pekat. Tampak alangkah sangat jelas sekali bahwa akan turun hujan pula di Jatinangor. Saya agak khawatir. Bukan apa-apa, tapi ini menyangkut jemuran yang belum kering.
Tapi jika kamu tahu, saya tidak mencemaskan jaket dan beberapa potong celana yang tidak seberapa itu. Tapi saya ada janji bertemu dosen sore itu di rumahnya, yang artinya saya harus pergi ke rumah beliau. Tapi itu tadi barusan adalah contoh kalimat tidak efektif lainnya, karena rumah beliau tidak mungkin mendatangi saya, bukan? Tapi, ya sudahlah.
Mau tidak mau saya harus pergi juga. Dengan motor pinjaman saya menjemput Abim Si Anak Bima. Lalu pergilah kami. Dan benar saja perkiraan saya, hujan mulai turun. Abim yang baik hati menawarkan opsi terus atau kembali ke rumah untuk menukar motor dengan mobil. Padahal mobilnya Abim sedang ringan bagian tangkinya, walaupun bagasinya terisi alat berat. (payung, bantal, dongkrak mainan, sandal serap, dll). Saya terpaksa setuju. Mumpung hujan masih berupa gerimis menunjang, pikir saya. Menunjang kami untuk kembali ke rumah tanpa basah berarti.
Kami tiba di tujuan.. Ketemu.. Salaman.. Numpang shalat.. Ngobrol ini dan itu.. bla bla.. Dibekali wejangan.. bla bla bla.. Ada kucing lewat.. miaw miaw.. Wejangan lagi.. bla bla bla bla.. Numpang pipis.. Permisi pulang. Semua itu terjadi hanya dalam waktu 2 jam saja. Sungguh bincang-bincang yang singkat dan bermanfaat.
Hari sudah malam. Ikan sudah bobo. Hujan masih turun juga. Suhu udara semakin turun. Berada di dalam mobil tidak banyak membantu. Saya bersyukur cabin pressure tidak ikut-ikutan nge-drop. Mungkin untuk menghangatkan suasana, Abim mulai berkicau tentang rencananya belajar Bahasa Belanda.
"Emang lu pengen ke Belanda, Dul?" tanya saya. Dul maksudnya dulur, artinya saudara.
"Ya hayang wae belajar, tempat les yang bagus di mana sih?" Abim masih semangat.
"Emang udah pasti ke sana?" Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain. Tidak baik.
"Belum sih. Tapi bisa laah. Masa, Abim dan angin gak bisa sampe Belanda.."
Angin? Apaa lagi..
Usut kabel punya usut kabel (halah ribet), ternyata Si Anak Bima sedang penasaran dengan angin. Tampaknya dia sedang mencari-cari makna penciptaan zat alir ini dan sifatnya yang unik itu. Mungkin dia merasakan kemiripan sifat. "Mengalir, berhembus pelan dalam harmoni, bergerak cepat karena perbedaan tekanan yang besar, atau hanya statis seolah gaib. Padahal ia ada dalam tarikan napas kita." Begitu kira-kira maksud Abim.
Percakapan tentang filosofi benda-benda tak hidup itu membuat saya membanding-bandingkan diri saya dengan benda tak hidup lainnya. Mirip apa ya saya? Angin kah? Tanah? Api? Asap? Gunung es? Air? Teh Kotak? Kopi? Awan? Kuku kaki? Kaca mobil? Marka jalan? Lalu filosofi apa yang terkandung di baliknya?
But, I can't define myself as one single, particular thing. Saya sedikit-sedikit punya sifat dari benda-benda mati itu. Kadang saya angin-anginan, kadang berapi-api, berasap jikalau kebingungan, dan suatu hari nanti akan menjadi bagian dari tanah. Akan ada yang setuju jika saya ini disebut gunung es. Saya juga bisa menjadi 'Teh Kotak' bagi orang-orang tertentu. :9
Tapi manusia memang tidak diciptakan sesederhana itu, bukan? Semoga saya tidak berlaku sombong dengan berkata bahwa manusia adalah masterpiece dari semua ciptaan Tuhan, dengan segala dinamikanya, keunikannya. Bahkan satu manusia dengan yang lainnya saja unik. Tak ada yang sama. Tapi jika harus menimbang-nimbang sifat benda mana yang paling mirip dengan saya, that would be Kantong Ajaib Doraemon. Beragam benda ada di dalamnya. dari yang masuk akal sampai yang mustahil bin muslihat. Yap. Saya adalah Kantong Ajaib Doraemon, disingkat Tongjamon.
Tak lama, mobil berhenti. Abim membelok-belokkan setir sambil menginjak-injak pedal di bawah kakinya untuk mendapatkan parkir sempurna bagi mobilnya. Hujan sudah berhenti. Tongjamon melanjutkan perjalanan pulang ke Jatinangor.
Tapi jika kamu tahu, saya tidak mencemaskan jaket dan beberapa potong celana yang tidak seberapa itu. Tapi saya ada janji bertemu dosen sore itu di rumahnya, yang artinya saya harus pergi ke rumah beliau. Tapi itu tadi barusan adalah contoh kalimat tidak efektif lainnya, karena rumah beliau tidak mungkin mendatangi saya, bukan? Tapi, ya sudahlah.
Mau tidak mau saya harus pergi juga. Dengan motor pinjaman saya menjemput Abim Si Anak Bima. Lalu pergilah kami. Dan benar saja perkiraan saya, hujan mulai turun. Abim yang baik hati menawarkan opsi terus atau kembali ke rumah untuk menukar motor dengan mobil. Padahal mobilnya Abim sedang ringan bagian tangkinya, walaupun bagasinya terisi alat berat. (payung, bantal, dongkrak mainan, sandal serap, dll). Saya terpaksa setuju. Mumpung hujan masih berupa gerimis menunjang, pikir saya. Menunjang kami untuk kembali ke rumah tanpa basah berarti.
Kami tiba di tujuan.. Ketemu.. Salaman.. Numpang shalat.. Ngobrol ini dan itu.. bla bla.. Dibekali wejangan.. bla bla bla.. Ada kucing lewat.. miaw miaw.. Wejangan lagi.. bla bla bla bla.. Numpang pipis.. Permisi pulang. Semua itu terjadi hanya dalam waktu 2 jam saja. Sungguh bincang-bincang yang singkat dan bermanfaat.
Hari sudah malam. Ikan sudah bobo. Hujan masih turun juga. Suhu udara semakin turun. Berada di dalam mobil tidak banyak membantu. Saya bersyukur cabin pressure tidak ikut-ikutan nge-drop. Mungkin untuk menghangatkan suasana, Abim mulai berkicau tentang rencananya belajar Bahasa Belanda.
"Emang lu pengen ke Belanda, Dul?" tanya saya. Dul maksudnya dulur, artinya saudara.
"Ya hayang wae belajar, tempat les yang bagus di mana sih?" Abim masih semangat.
"Emang udah pasti ke sana?" Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain. Tidak baik.
"Belum sih. Tapi bisa laah. Masa, Abim dan angin gak bisa sampe Belanda.."
Angin? Apaa lagi..
Usut kabel punya usut kabel (halah ribet), ternyata Si Anak Bima sedang penasaran dengan angin. Tampaknya dia sedang mencari-cari makna penciptaan zat alir ini dan sifatnya yang unik itu. Mungkin dia merasakan kemiripan sifat. "Mengalir, berhembus pelan dalam harmoni, bergerak cepat karena perbedaan tekanan yang besar, atau hanya statis seolah gaib. Padahal ia ada dalam tarikan napas kita." Begitu kira-kira maksud Abim.
Percakapan tentang filosofi benda-benda tak hidup itu membuat saya membanding-bandingkan diri saya dengan benda tak hidup lainnya. Mirip apa ya saya? Angin kah? Tanah? Api? Asap? Gunung es? Air? Teh Kotak? Kopi? Awan? Kuku kaki? Kaca mobil? Marka jalan? Lalu filosofi apa yang terkandung di baliknya?
But, I can't define myself as one single, particular thing. Saya sedikit-sedikit punya sifat dari benda-benda mati itu. Kadang saya angin-anginan, kadang berapi-api, berasap jikalau kebingungan, dan suatu hari nanti akan menjadi bagian dari tanah. Akan ada yang setuju jika saya ini disebut gunung es. Saya juga bisa menjadi 'Teh Kotak' bagi orang-orang tertentu. :9
Tapi manusia memang tidak diciptakan sesederhana itu, bukan? Semoga saya tidak berlaku sombong dengan berkata bahwa manusia adalah masterpiece dari semua ciptaan Tuhan, dengan segala dinamikanya, keunikannya. Bahkan satu manusia dengan yang lainnya saja unik. Tak ada yang sama. Tapi jika harus menimbang-nimbang sifat benda mana yang paling mirip dengan saya, that would be Kantong Ajaib Doraemon. Beragam benda ada di dalamnya. dari yang masuk akal sampai yang mustahil bin muslihat. Yap. Saya adalah Kantong Ajaib Doraemon, disingkat Tongjamon.
Tak lama, mobil berhenti. Abim membelok-belokkan setir sambil menginjak-injak pedal di bawah kakinya untuk mendapatkan parkir sempurna bagi mobilnya. Hujan sudah berhenti. Tongjamon melanjutkan perjalanan pulang ke Jatinangor.
Banggalah dengan Instabilitas
Seumur hidup saya berusaha menjadi pribadi yang stabil. Saya melihat stabilitas melalui kacamata saya yang minus ini sebagai suatu keadaan dimana manusia sudah bisa mengontrol keseimbangan dirinya sendiri, seperti rasa takut yang mengimbangi kenekatan, rasa malu yang mengimbangi kekurangajaran, rasa rendah diri yang mengimbangi kesombongan, ataupun rasa waspada yang mengimbangi kenaifan. Semua hal tersebut tidak ada yang bersifat mutlak baik atau buruk. Semuanya dibutuhkan sesuai dengan kadarnya masing-masing. Dan ketika seseorang telah menemukan cara menempatkan semua energi positif dan negatif mereka pada tempatnya, saya menyebut mereka pribadi stabil.
Lihatlah, jika ada berita kemalangan yang menimpa mereka, mereka akan sejenak tertegun tapi kemudian menguasai diri mereka kembali, menelepon beberapa nomor, berbicara kepada orang-orang tertentu lalu meninggalkan pesta tempat mereka awalnya berada dengan muka sedikit menunduk menjaga fokus, sambil tersenyum pada orang-orang yang dilalui menuju pintu keluar.
Lihatlah, jika ada berita Idul Adha datang lebih cepat, jangan mengharap mereka akan berlompatan dan berteriak norak. A simple woo-hoo dan high-five sudah cukup. Bereaksi namun tidak berlebihan. Kurang lebih begitu maksud saya.
Saya tidak tahu apakah zodiak saya yang berlambang timbangan itu ada hubungannya dengan ini, yang jelas selama ini saya menjunjung tinggi keseimbangan. I dunno why, I just do.
Prinsip saya goyah ketika saya menonton salah satu episode Mario Teguh yang disiarkan di salah satu channel TV-berita lokal. Anda pasti familiar, cukup menekan angka 4 pada remote TV teman saya, maka channel yang dimaksud akan muncul.
Anyway..
Inilah kata-kata penggoyah iman tersebut.
"Orang-orang yang menginginkan stabilitas tidak pernah betul-betul berhasil"
And then I was like, "Excuse mehh?!"
And then he gave me this analogy:
"Pesawat tempur yang paling hebat adalah pesawat tempur yang aslinya tidak stabil, terlalu labil untuk dikontrol oleh manusia, sampai harus menggunakan komputer, sehingga dia berbelok kapan pun, berbalik, dan kembali dalam dockfight kapan pun.
"Pribadi yang tidak stabil mempunyai kecenderungan berhasil yang lebih besar, karena tidak malu dia berubah pendapat, tidak malu dia mengganti rencana, dan tidak jengah dia melakukan sesuatu yang baru. Banggalah dengan instabilitas."
And then I was like, "Humm.. but still.. you know.."
Lalu Mario Teguh kembali menjawab pertanyaan audiens yang lain. Dia tak mendengar saya karena saya hanya menonton dari layar televisi dan percakapan sebelumnya tidak benar-benar terjadi secara dua arah. Saya hanya membayangkannya.
Lalu apa hebatnya menjadi pribadi yang stabil? Saya teringat teman baik sewaktu SMA pernah mengatakan kalau emosi saya ini terlalu stabil, overstabil sampai-sampai terlihat tidak seimbang. Dia yang seharusnya menjadi orang yang paling bisa 'membaca' saya pun kewalahan dengan bawaan saya itu. Kasihan juga dia.
Lalu apa hebatnya? Entahlah...
Di satu sisi, saya meyakini stabilitas itu lebih baik daripada instabilitas.
Di sisi lain, saya tidak bisa menyangkal kata-kata Mbah Marijo Teguh itu. Ada orang-orang yang melakukan hal-hal berguna, biasa-biasa saja, dan hidup bahagia. Tidak pernah mencapai mimpi-mimpi terliarnya, namun juga tidak pernah jatuh bangkrut sampai harus menggadaikan pakaian dalam.
Namun ada orang-orang yang mengambil resiko, gagal, beralih ke hal lain apapun yang menarik minatnya sampai akhirnya menemukan hal terbesar yang memang diinginkannya. Dan ketika waktunya tiba, dia telah meninggalkan bekas di hidup banyak orang. This kind of people fly high, but when they fall, they fall hard. But then, they could fly again, higher..
Believe me, jika Anda mulai bertanya-tanya setelah membaca tulisan ini, maka saya juga demikian. Apakah kita hanya akan menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja? Or live in instability, with possibilities of reaching the highest peak and drowning to the lowest point? Karena tak akan ada zenith jika tanpa nadir, bukan.. Dan hidup hanya sekali.. So, if we can live it to the fullest, I suppose.. that would be cool.
Lihatlah, jika ada berita kemalangan yang menimpa mereka, mereka akan sejenak tertegun tapi kemudian menguasai diri mereka kembali, menelepon beberapa nomor, berbicara kepada orang-orang tertentu lalu meninggalkan pesta tempat mereka awalnya berada dengan muka sedikit menunduk menjaga fokus, sambil tersenyum pada orang-orang yang dilalui menuju pintu keluar.
Lihatlah, jika ada berita Idul Adha datang lebih cepat, jangan mengharap mereka akan berlompatan dan berteriak norak. A simple woo-hoo dan high-five sudah cukup. Bereaksi namun tidak berlebihan. Kurang lebih begitu maksud saya.
Saya tidak tahu apakah zodiak saya yang berlambang timbangan itu ada hubungannya dengan ini, yang jelas selama ini saya menjunjung tinggi keseimbangan. I dunno why, I just do.
Prinsip saya goyah ketika saya menonton salah satu episode Mario Teguh yang disiarkan di salah satu channel TV-berita lokal. Anda pasti familiar, cukup menekan angka 4 pada remote TV teman saya, maka channel yang dimaksud akan muncul.
Anyway..
Inilah kata-kata penggoyah iman tersebut.
"Orang-orang yang menginginkan stabilitas tidak pernah betul-betul berhasil"
And then I was like, "Excuse mehh?!"
And then he gave me this analogy:
"Pesawat tempur yang paling hebat adalah pesawat tempur yang aslinya tidak stabil, terlalu labil untuk dikontrol oleh manusia, sampai harus menggunakan komputer, sehingga dia berbelok kapan pun, berbalik, dan kembali dalam dockfight kapan pun.
"Pribadi yang tidak stabil mempunyai kecenderungan berhasil yang lebih besar, karena tidak malu dia berubah pendapat, tidak malu dia mengganti rencana, dan tidak jengah dia melakukan sesuatu yang baru. Banggalah dengan instabilitas."
And then I was like, "Humm.. but still.. you know.."
Lalu Mario Teguh kembali menjawab pertanyaan audiens yang lain. Dia tak mendengar saya karena saya hanya menonton dari layar televisi dan percakapan sebelumnya tidak benar-benar terjadi secara dua arah. Saya hanya membayangkannya.
Lalu apa hebatnya menjadi pribadi yang stabil? Saya teringat teman baik sewaktu SMA pernah mengatakan kalau emosi saya ini terlalu stabil, overstabil sampai-sampai terlihat tidak seimbang. Dia yang seharusnya menjadi orang yang paling bisa 'membaca' saya pun kewalahan dengan bawaan saya itu. Kasihan juga dia.
Lalu apa hebatnya? Entahlah...
Di satu sisi, saya meyakini stabilitas itu lebih baik daripada instabilitas.
Di sisi lain, saya tidak bisa menyangkal kata-kata Mbah Marijo Teguh itu. Ada orang-orang yang melakukan hal-hal berguna, biasa-biasa saja, dan hidup bahagia. Tidak pernah mencapai mimpi-mimpi terliarnya, namun juga tidak pernah jatuh bangkrut sampai harus menggadaikan pakaian dalam.
Namun ada orang-orang yang mengambil resiko, gagal, beralih ke hal lain apapun yang menarik minatnya sampai akhirnya menemukan hal terbesar yang memang diinginkannya. Dan ketika waktunya tiba, dia telah meninggalkan bekas di hidup banyak orang. This kind of people fly high, but when they fall, they fall hard. But then, they could fly again, higher..
Believe me, jika Anda mulai bertanya-tanya setelah membaca tulisan ini, maka saya juga demikian. Apakah kita hanya akan menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja? Or live in instability, with possibilities of reaching the highest peak and drowning to the lowest point? Karena tak akan ada zenith jika tanpa nadir, bukan.. Dan hidup hanya sekali.. So, if we can live it to the fullest, I suppose.. that would be cool.
Simple Past, Complicated Future
Baru-baru ini saya menemukan beberapa teman SD yang sudah lama saya cari-cari. Keadaan setelah tsunami dan kepergian saya dari kota kelahiran saya membuat bentuk pencarian itu sedikit rumit. Tapi berkat salah satu situs jejaring sosial di dunia maya (enyahlah kalian yang mengusulkan situs ini diharamkan) akhirnya saya menemukan beberapa sahabat masa kecil yang, entahlah, perasaan saya agak bercampur aduk.
Mengingat lagi belasan tahun silam memunculkan banyak potongan-potongan adegan di kepala saya, yang tidak ada spesialnya mungkin di mata orang lain, tapi bagi kami itu unik. Kami masa itu adalah bibit-bibit kami di masa sekarang. Masih teringat dulu saya bermimpi menjadi pilot. Ayah dulu sering membelikan saya majalah kedirgantaraan. Tapi tampaknya semakin dewasa kita semakin banyak melakukan kompromi-kompromi: dari pilot saya menjadi pemain layangan. Lalu cita-cita saya jatuh ke darat: menjadi pembalap formula 1. Sekarang saya hanya pelari, dan saya menyalurkan hobi itu dengan olahraga yang orang-orang sebut parkour atau freerunning. Yah paling tidak, masih berhubungan dengan kecepatan.
Anyway, banyak yang berubah dari 12 tahun yang lalu. Anak perempuan yang dulunya pemalu dan suka ngambek sekarang berubah menjadi sosok yang supel, masih malu-malu tapi jauh lebih 'gila', cinta monyetnya yang dulu mengiriminya surat yang kemudian ketahuan lalu suratnya dibacakan di depan kelas (pasti berat bagi gadis berusia 11 tahun) sekarang telah bersama orang lain, lalu ada bocah laki-laki yang dulu suka cengengesan dan hanya berani mengusili anak perempuan yang sebenarnya dia sukai, sekarang menjadi lebih terbuka dan terang-terangan menyatakan perasaannya. Lalu ada adik perempuan dari teman yang dulu hanya saya pernah dengar namanya, dan baru 12 tahun kemudian saya tahu orangnya, bicara dengannya, baca tulisan-tulisannya, berpesan pendek tentang kera sakti dan gajah, dan tergelitik tingkah lakunya.
Dan saya, well, mungkin proses yang saya alami selama 12 tahun untuk menjadi saya yang sekarang terlalu smooth sehingga saya tidak bisa mengatakan ada yang berubah. Seperti Darwin yang berteori bahwa dia ber-evolusi dari seekor kera, maka dia tidak akan ingat bagaimana dia berubah. Dia mungkin saja sedang dalam perjalanan menuju universitas tempat dia mengajar, melewati etalase pertokoan yang mengkilap, berhenti sebentar dan berpikir "Oh mother, I look like an ape." dan muncullah teori itu.
Okay, leave alone Darwin. Saya hanya bertanya-tanya tentang apa yang mungkin tersimpan dalam tahun-tahun yang terlupakan. Ada dua orang dari masa lampau yang menjalani kehidupannya masing-masing secara paralel.. lalu sekarang jalan mereka bersinggungan.. let's see.. ada tiga kemungkinan..
1. keduanya berpotongan dan menjauh
2. paralel (menjadi satu)
3. entahlah.. selalu ada kemungkinan lain kan
Believers may call it second chance..Sceptics may call it mere coincidence..
I think I should just call it serendipity, for now.
Mengingat lagi belasan tahun silam memunculkan banyak potongan-potongan adegan di kepala saya, yang tidak ada spesialnya mungkin di mata orang lain, tapi bagi kami itu unik. Kami masa itu adalah bibit-bibit kami di masa sekarang. Masih teringat dulu saya bermimpi menjadi pilot. Ayah dulu sering membelikan saya majalah kedirgantaraan. Tapi tampaknya semakin dewasa kita semakin banyak melakukan kompromi-kompromi: dari pilot saya menjadi pemain layangan. Lalu cita-cita saya jatuh ke darat: menjadi pembalap formula 1. Sekarang saya hanya pelari, dan saya menyalurkan hobi itu dengan olahraga yang orang-orang sebut parkour atau freerunning. Yah paling tidak, masih berhubungan dengan kecepatan.
Anyway, banyak yang berubah dari 12 tahun yang lalu. Anak perempuan yang dulunya pemalu dan suka ngambek sekarang berubah menjadi sosok yang supel, masih malu-malu tapi jauh lebih 'gila', cinta monyetnya yang dulu mengiriminya surat yang kemudian ketahuan lalu suratnya dibacakan di depan kelas (pasti berat bagi gadis berusia 11 tahun) sekarang telah bersama orang lain, lalu ada bocah laki-laki yang dulu suka cengengesan dan hanya berani mengusili anak perempuan yang sebenarnya dia sukai, sekarang menjadi lebih terbuka dan terang-terangan menyatakan perasaannya. Lalu ada adik perempuan dari teman yang dulu hanya saya pernah dengar namanya, dan baru 12 tahun kemudian saya tahu orangnya, bicara dengannya, baca tulisan-tulisannya, berpesan pendek tentang kera sakti dan gajah, dan tergelitik tingkah lakunya.
Dan saya, well, mungkin proses yang saya alami selama 12 tahun untuk menjadi saya yang sekarang terlalu smooth sehingga saya tidak bisa mengatakan ada yang berubah. Seperti Darwin yang berteori bahwa dia ber-evolusi dari seekor kera, maka dia tidak akan ingat bagaimana dia berubah. Dia mungkin saja sedang dalam perjalanan menuju universitas tempat dia mengajar, melewati etalase pertokoan yang mengkilap, berhenti sebentar dan berpikir "Oh mother, I look like an ape." dan muncullah teori itu.
Okay, leave alone Darwin. Saya hanya bertanya-tanya tentang apa yang mungkin tersimpan dalam tahun-tahun yang terlupakan. Ada dua orang dari masa lampau yang menjalani kehidupannya masing-masing secara paralel.. lalu sekarang jalan mereka bersinggungan.. let's see.. ada tiga kemungkinan..
1. keduanya berpotongan dan menjauh
2. paralel (menjadi satu)
3. entahlah.. selalu ada kemungkinan lain kan
Believers may call it second chance..Sceptics may call it mere coincidence..
I think I should just call it serendipity, for now.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Author
- Teuku Razi
- Bandung, West Java, Indonesia
- Born with a glasses on, can't stop reading ever since. Music is what I hear everyday. Don't talk much, but shout a lot XD enjoy my time alone, but sometimes don't want to be alone. have a deep curiosity about stars and outerspace, while wondering about what my life would be at the highest point.