Selasa sore itu mendung. Betah rasanya di kosan dengan cuaca begitu. Saya berulangkali mengecek langit Bandung di sebelah barat saya. Di suatu tempat di barat sana, saya yakin sudah turun hujan. Saya mengenali abu-abu pekat itu. Itu bukan gumpalan awan, itu spasi berisi massa air yang sedang jatuh dari langit. Pekat. Tampak alangkah sangat jelas sekali bahwa akan turun hujan pula di Jatinangor. Saya agak khawatir. Bukan apa-apa, tapi ini menyangkut jemuran yang belum kering.
Tapi jika kamu tahu, saya tidak mencemaskan jaket dan beberapa potong celana yang tidak seberapa itu. Tapi saya ada janji bertemu dosen sore itu di rumahnya, yang artinya saya harus pergi ke rumah beliau. Tapi itu tadi barusan adalah contoh kalimat tidak efektif lainnya, karena rumah beliau tidak mungkin mendatangi saya, bukan? Tapi, ya sudahlah.
Mau tidak mau saya harus pergi juga. Dengan motor pinjaman saya menjemput Abim Si Anak Bima. Lalu pergilah kami. Dan benar saja perkiraan saya, hujan mulai turun. Abim yang baik hati menawarkan opsi terus atau kembali ke rumah untuk menukar motor dengan mobil. Padahal mobilnya Abim sedang ringan bagian tangkinya, walaupun bagasinya terisi alat berat. (payung, bantal, dongkrak mainan, sandal serap, dll). Saya terpaksa setuju. Mumpung hujan masih berupa gerimis menunjang, pikir saya. Menunjang kami untuk kembali ke rumah tanpa basah berarti.
Kami tiba di tujuan.. Ketemu.. Salaman.. Numpang shalat.. Ngobrol ini dan itu.. bla bla.. Dibekali wejangan.. bla bla bla.. Ada kucing lewat.. miaw miaw.. Wejangan lagi.. bla bla bla bla.. Numpang pipis.. Permisi pulang. Semua itu terjadi hanya dalam waktu 2 jam saja. Sungguh bincang-bincang yang singkat dan bermanfaat.
Hari sudah malam. Ikan sudah bobo. Hujan masih turun juga. Suhu udara semakin turun. Berada di dalam mobil tidak banyak membantu. Saya bersyukur cabin pressure tidak ikut-ikutan nge-drop. Mungkin untuk menghangatkan suasana, Abim mulai berkicau tentang rencananya belajar Bahasa Belanda.
"Emang lu pengen ke Belanda, Dul?" tanya saya. Dul maksudnya dulur, artinya saudara.
"Ya hayang wae belajar, tempat les yang bagus di mana sih?" Abim masih semangat.
"Emang udah pasti ke sana?" Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain. Tidak baik.
"Belum sih. Tapi bisa laah. Masa, Abim dan angin gak bisa sampe Belanda.."
Angin? Apaa lagi..
Usut kabel punya usut kabel (halah ribet), ternyata Si Anak Bima sedang penasaran dengan angin. Tampaknya dia sedang mencari-cari makna penciptaan zat alir ini dan sifatnya yang unik itu. Mungkin dia merasakan kemiripan sifat. "Mengalir, berhembus pelan dalam harmoni, bergerak cepat karena perbedaan tekanan yang besar, atau hanya statis seolah gaib. Padahal ia ada dalam tarikan napas kita." Begitu kira-kira maksud Abim.
Percakapan tentang filosofi benda-benda tak hidup itu membuat saya membanding-bandingkan diri saya dengan benda tak hidup lainnya. Mirip apa ya saya? Angin kah? Tanah? Api? Asap? Gunung es? Air? Teh Kotak? Kopi? Awan? Kuku kaki? Kaca mobil? Marka jalan? Lalu filosofi apa yang terkandung di baliknya?
But, I can't define myself as one single, particular thing. Saya sedikit-sedikit punya sifat dari benda-benda mati itu. Kadang saya angin-anginan, kadang berapi-api, berasap jikalau kebingungan, dan suatu hari nanti akan menjadi bagian dari tanah. Akan ada yang setuju jika saya ini disebut gunung es. Saya juga bisa menjadi 'Teh Kotak' bagi orang-orang tertentu. :9
Tapi manusia memang tidak diciptakan sesederhana itu, bukan? Semoga saya tidak berlaku sombong dengan berkata bahwa manusia adalah masterpiece dari semua ciptaan Tuhan, dengan segala dinamikanya, keunikannya. Bahkan satu manusia dengan yang lainnya saja unik. Tak ada yang sama. Tapi jika harus menimbang-nimbang sifat benda mana yang paling mirip dengan saya, that would be Kantong Ajaib Doraemon. Beragam benda ada di dalamnya. dari yang masuk akal sampai yang mustahil bin muslihat. Yap. Saya adalah Kantong Ajaib Doraemon, disingkat Tongjamon.
Tak lama, mobil berhenti. Abim membelok-belokkan setir sambil menginjak-injak pedal di bawah kakinya untuk mendapatkan parkir sempurna bagi mobilnya. Hujan sudah berhenti. Tongjamon melanjutkan perjalanan pulang ke Jatinangor.
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
A Short Trip to Geulis

4.30 Kamar
Bangun tidur, belum menyiapkan apa2 untuk hiking ke geulis. Bergegas cuci muka, subuh, kemudian mengemasi barang2 untuk keperluan di atas, i.e: ponco, snack, air mineral, binocular, katu uno (dua terakhir adalah item wajib), dll. Setelah siap, langsung berangkat ke kosan rinda, tak jauh di depan.
5.30 Kosan Rinda
Tiba bersamaan dengan iin dan indah. Dwi dan Rinda stand by sudah tinggal 1 orang lagi, Lutfi. Oh ya, pesan makanan dulu di pajawan berupa omelet dan nasi putih masing2 dapat 1.
Saya bawa nasi, Lutfi bawa omelet (hanya lelaki sejati yang dapat tugas ini).
6.10 Berangkat
Ya, berangkatlah kami menuju si geulis. Jalan raya tak kami hiraukan, hanya potong kompas terus ke arah geulis, melewati sawah2 menghijau, pematang yang lunak, tanah merah yang tiada habis, berpapasan dengan orang2 sakti yang membawa batang pohon di pundak mereka seperti sebiji tongkat berjalan, berhenti sewaktu2 demi mengisi paru2 dengan napas (iya kan) dan mengabadikan momen. jepretan kamera tampaknya berkhasiat merubah wajah yang kuyu menjadi penuh senyum hangat.
9.10 Tiba di Puncak
Jaaj. We made it. Ternyata di atas sudah ada beberapa kelompok yang sengaja mengunjungi makam yang ada di bawah pohon beringin di puncak geulis. Besok adalah hari maulid.. (apa kamu melihat hubungan antara makam manusia, pohon beringin, puncak gunung, dan maulid nabi? Ya, saya rasa cuma kebetulan saja ada makam yang sekarang menjadi puncak gunung, dan beringin raksasa itu memilih tumbuh di sebelah makam tersebut, instead of any other place).
10.40 Kembali Pulang
Setelah berpose2 dengan ilalang dan ibu penjual frutang (foto dapat dilihat di atas), kami memutuskan untuk pulang.(haha, rima yang bagus). Kami berniat untuk men-tag foto si ibu kalo dia sudah punya facebook. Ahh, tapi saya lupa namanya, tampaknya si ibu tidak akan melihat foto dirinya di facebook. Maaf ya..
Perjalanan turun tampaknya lebih cepat daripada naik, walaupun lebih licin dan bikin baju kotor. Tapi di situlah kami banyak belajar, karena kalau tidak kotor, ya tidak belajar.
Kami berpapasan lagi dengan beberapa rombongan bis (ya nggaklah) *rombongan lain yang sepertinya juga akan mengunjungi makam..hmm, mungkin karena itu hari minggu jadi mereka memutuskan untuk berekreasi secara sedikit aneh. Kami berfoto2 lagi, jangan heran.
12.30 Tiba di Warung Sebelah SD (baca: akhir perjalanan turun)
Lutfi sudah menunggu kami di warung sekitar 30menit karena dia menggunakan jalur yang berbeda ketika turun, dan of course, karena dia lelaki menwa (semacam kopasus) jadi lebih cepat. Kami bertemu dan bermain uno (yee, akhirnya main juga) diteruskan main jempol (I won, by the way, haha). Oh iya, yang menang maen UNO adalah Rinda..(puas, nda?)
13.00 Pulang Naik Angkot (15 menit sebelum sang hujan besar)
Setelah kami berpisah dengan damai, saya turun angkot di depan gang masuk kosan saya, dan melanjutkan berjalan kaki. Butuh waktu 10 menit untuk mencapai kosan ujung dunia itu. Tapi..tapi..tapi..
Tiba2 datang hujan lebat, lebat sekali, ditemani sang angin yang tampaknya sedang berpesta pora diiringi kilat yang datang hampir bersamaan dengan petir. Bayangkan itu! Begitu dekat (dengan asumsi v bunyi di udara=330m/s, dan v cahaya=300,000,000m/s) selisihnya tidak sampai satu detik, tidak sampai 330m away. Tadinya saya senang2 saja hujan2an, nostalgia masa kecil, sekalian membilas tanah2 merah yang menempel di sandal dan tas, tapi saya takut kilat nyasar. Maka dari itu dengan secepat kilat (mengalahkan kilat harus dengan kilat) saya berlari menuju kosan. Saya rasa maurice green, pemecah rekor dari amerika itu, tidak sanggup berlari secepat itu di trek basah. Alhamdulillah saya sampai sebelum kilat selanjutnya, karena imbas loncatan listrik megavolt yang mengenai suatu objek dekat saya saja itu sudah cukup. Air bisa menghantarkan listrik, kamu tahu kan? Dan saya sudah sangat basah, karena hujan tentu saja.
Bagaimana dengan nasib teman2 kita yang sedang mengunjungi makam? Saya hanya bisa berdoa semoga di puncak sana hujan tidak selebat yang saya alami. Atau mungkin itu peringatan agar tidak iseng main ke makam untuk, ah..entahlah. Semoga dugaan saya salah.
1 hal lagi yg baru saya sadari, saya tidak perlu menemukan ingatan itu lagi, karena tas saya sudah tercuci hujan, tak ada lagi wangi yang menguar dari sana yang mengingatkan saya pada kenangan yang ingin saya lupakan. It's a good thing, actually.. entah kenapa selama ini saya masih mempertahankannya.
Terima kasih hujan, Terima kasih Tuhan.
Hiking yang menyegarkan..
Subscribe to:
Posts (Atom)
Author
- Teuku Razi
- Bandung, West Java, Indonesia
- Born with a glasses on, can't stop reading ever since. Music is what I hear everyday. Don't talk much, but shout a lot XD enjoy my time alone, but sometimes don't want to be alone. have a deep curiosity about stars and outerspace, while wondering about what my life would be at the highest point.